Kemunculan buku Api sejarah yang dikarang oleh Ahmad Mansyur Suryanegara telah mengembalikan perdebatan tentang peranan umat Islam baik itu peranan ulama maupun santri kedalam mainstream sejarah nasional Indonesia. Perdebatan yang terbaru adalah gugatan terhadap hari kebangkitan nasional yang diambil dari hari lahirnya Budhi Utomo. Polemik hari kebangkitan nasional ini berawal dari argument yang mengatakan bahwa jauh sebelum Budhi Utomo berdiri telah ada Sarekat Dagang Islam disingkat SDI yang didirikan di Bogor empat tahun sebelumnya. Dengan demikian maka berdasarkan argument tersebut maka keabsahan hari kebangkitan nasional dianggap gugur jika melihat bahwa SDI telah berdiri sejak tahun 1905. Sementara argument dan kesepakatan umum bahwa kebangkitan nasional itu jatuh pada tangal 20 Mei pada setiap tahunya, ia dengan melihat bahwa SDI yang beridir tahun 1905 tersebut adalah lembaga usaha bukan organisasi masa. maka yang dianggap organisasi masa adalah berdirinya Sarekat Islam pada tahun 1912.
Selain argumentasi waktu, ada hal yang menarik jika melihat bagaimana kedua organisasi tersebut didirikan dan berkembang. sebenarnya sifat dan karakter dari kedua organisasi ini bisa mementahkan konvensi tentang hari kebangkitan nasional. Jika dilihat dari bentuk dan orientasi kedua organisasi tersebut, dalam proses pendirianya sama-sama memiliki sifat yang terbatas atau bahkan tidak racial.itu dikarenakan secara psyicologi social saat itu, rasa persatuan dalam kerangka nasionalisme seperti sekarang ini belum terbentuk secara matang. pun jika menggunakan bendera agama. Ini disebabkan bentuk kesadaran nasionalisme yang terbatas dan regional. Sebagai conyoh misalnya pada awalnya SDI lebih menitik beratkan pada faktor-faktor ekonomi sebagai perlawanan terhadap dominasi ekonomi etnis China. Kemudian baru setelah berada dibawah kepemimpinan Cokroaminoto pada tahun 1912, organisasi ini berkembang dengan pesat hingga ke Sumatra dan sulawesi. Apalagi Budhi Utomo yang bersifat primordial dan rasial, bahkan lebih sempit orientasi dan tujuanya. Yang menjadi cita-cita utamanya hanya mengupayakan perbaikan dan kembalinya integritas kebudayana Jawa. Dan hal ini tidak pernah berubah sampai pada masa menjelang kemerdekaan. Dengan demikian jelas bahwa ia muncul hanya sebagai bagian dari upaya membangkitkan kembali kedigjayaan rakyat Jawa atas kekuatan kolonial Belanda yang mengontrol kerajaan Mataram. bahkan dengan sifatnya yang terbatas pada orang Jawa itu dan juga mempertahankan sikap yang pro pemerintah mendapat tentangan dari anggotanya sendiri, sehingga baru pada kongres pertama saja Suryopranoto dan Dr ciptomangunkusumo sudah mengundurkan diri dari keanggotaan. Selain itu anggota yang terlibat lebih banyak berasala dari kalangan priyayi dan kelompok pejabat pemerintaha. Namun kemudian dibandingkan dengan Budhi Utomo, Sarekat Islam mampu berkembang dan bergerak dari kalangan bawah dalam lapisan social masyarakat. Maka dari itu, penyebaranya pun dapat meluas keberbagai tempat. Dengan demikian melihat dari karakter keduanya maka perbandingan tersebut menunjukan bagaimana keunggulan Sarekat Islam dari sisi sifat dan perkembangan historisnya yang lebih meluas.
Dari perdebatan di atas kemudian beralih ke berbagai sejarah perjuangan bangsa ini, dimana peranan umat Islam sering kali terlihat kecil. untuk itu, perlu digaris bawahi bahwa ada dua hal yang menentukan bagaimana peranan umat Islam terpinggirkan dalam sejarah. Pertama, dengan berdirinya negara maka seluruh motivasi dan ideologi dalam setiap gerakan sebelum kemerdekaan direduksi menjadi bagian dari nasionalisme kebangsaan Indonesia. maka tidaklah heran jika dalam penulisan sejarah nasional selalu ada upaya menyatukan gagasan dan pikiran awal dengan nasionalisme keindonesiaan sebagai muara dari semua ideology tersebut. Kemudian, persoalan reduksi mereduksi ini juga terjadi tidak ahanya pada motive sejarah tetapi juga berlaku pada bahasa dan culture dalam masyarakat. Sebagai contoh, dengan menguatnya identitas nasional maka nilai-nilai budaya dan bahasa tercampur dalam nasionalisme kebangsaan. Kepunahan bahasa daerah selain dari pada berkurangnya penggunaan dalam keseharian tetapi juga terjadi akibat dair menguatnya identitas nasional. Dengan demikian hal ini tidak dapat dihindari.
Kedua, hilangnya sebagian besar peranan agama dan motive keagamaan dari umat Islam dalam mainstream sejarah nasional selain dari akibat alamiah tereduksi akibat menguatnya identitas nasional, hal terebut juga erat kaitanya dengan konplik antara negara dengan umat Islam. jika kita melihat bagaimana hubungan negara denga umat Islam, maka ada kememungkinan reduksi dan pelemahan atas peran umat Islam dalam kenegaraan. Apaladi pada masa Orde Baru dimana buku-buku sejarah di buat. Maka dengan alasan politik dan demi keutuhan Negara maka nasionalsime kebangsaan Indonesia berada diatas idiologi-idioloi lainya termasuk idiologi Islam. Kalaupun ada, maka seperti telah diterangkan di atas rasa nasioanalsme ke- Indonesiaanya lebih kental terasa. Misalnya motives Jihad baik dalam perang Jawa, Aceh, Banten dan perang Padri dihilangkan diganti dengan semangat nasionalisme kedaerahan saja.
Maka dari itu pada saat ini dalam kerangka mengupayakan pelurusan sejarah , maka peranan umat Islam dalam kemerdekaan haruslah ditampilkan kembali. Alasan-alasan politis dan ketakutan terhadap umat Islam tidaklah beralasan. Dengan demikian ini juga bisa dipakai sebagai wahana pengenalan sejarah terhadap umat Islam dan generasi muda saat ini. Mengingat pentingnya peranan umat Islam dalam Negara ini. Seperti halnya kelompok lainya di dalam masyarakat. Diharapkan semua pihak termasuk umat Islam memahami sejarah secara benar dan tidak dibuat-buat. Sehingga persoalaan ideology dan perdebatan lainya dapat dikembangkan berdasarkan pada kebijaksanaan dalam melihat sejarah sebagai bagian dari panutan untuk kehidupan berbangsa selanjutnya.
wah sae tulisanna. wios kuabi dijadiken resensi kanggo tugas mandiri kuliah…
Tolib, catatan YOU bagus, jernih, dan bersikap. Memang gitu harusnya seorang “ahli” sejarah.